EULOGI

Pemikiran tentang bagaimana mengupayakan rasa berkabung sebagai salah satu etika penyajian, pengaksesan, dan penggunaan kembali data, khususnya data ciptaan bebas hak cipta yang merujuk tahun kematian pencipta, sudah mengendap di benak saya sejak lama. Pikiran ini muncul beriringan dengan kesan ironis yang muncul setiap kali saya melihat PDD dirayakan. Misalnya perayaan PDD yang diinisiasi oleh Internet Archive pada 19 Januari 2023 lalu. Meskipun, jika kita membicarakan konteks rezim hak cipta Amerika Serikat (AS) hal ini menjadi relevan. Karena selain adanya mekanisme pelindungan hak cipta yang berbeda, AS pernah mengalami satu kemunduran besar pada tahun 1998-1999 dalam konteks pembebasan pengetahuan melalui status domain publik suatu ciptaan. Yaitu, ketika pengajuan perpanjangan masa berlaku pelindungan hak cipta dari beberapa perusahaan, termasuk The Walt Disney Company, dikabulkan oleh Kongres Amerika Serikat. Pun, di antara ciptaan-ciptaan yang habis masa berlaku pelindungan hak ciptanya di AS tidak merujuk pada tahun kematian pencipta, namun pada tahun kapan ciptaan pertama kali diumumkan dan regulasi hak cipta mana yang berlaku pada tahun yang sama. Oleh karena itu, konteks Indonesia atau negara lain yang masih merujuk pada tahun kematian pencipta, bagi saya, lebih relevan ketika rasa berkabung diwacanakan di dalamnya.

Berkas elektronik basis data biasanya disajikan secara terbuka melalui perangkat lunak seperti google spreadsheet dan figshare. Keberadaan antarmuka (interface) ini dimaksudkan agar pengguna dapat langsung mengakses versi paling mentah dari suatu basis data. Penyediaan versi paling mentah dari suatu basis data memungkinkan interoperabilitas: memperbesar kemungkinan pemanfaatan data oleh siapapun melalui metode apapun. Google spreadsheet umum dikenal sebagai perangkat lunak yang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan data dengan ukuran besar, sekaligus sebagai sarana untuk mengolahnya. Figshare, di antara akademisi, memungkinkan pengubahan basis data secara langsung ke format lain yang dirasa lebih sesuai oleh pengakses dan memudahkan proses pembuatan sitasi dari data yang diakses. Dua perangkat ini sama-sama memberikan kemudahan pengaksesan, di mana kemudian kemudahan menjadi bahan bakar untuk melahirkan kecepatan pengolahan data. Unsur kecepatan ini lah kemudian yang memiliki potensi yang membuat pembacaan mendalam dilewati begitu saja dalam proses pemanfaatan basis data.Menurut saya, pewacanaan rasa berkabung bisa menjadi langkah intervensi jika diterapkan pada bagian antarmuka laman basis data ini.

Dalam upaya intervensi ini, saya mensejajarkan posisi para perawat data dengan para juru kunci di tanah perkuburan. Karena, setiap butir nama yang ditulis pada tiap petak di satu lembar berkas basis data, dengan ontologi tertentu yang ditetapkan, merujuk pada peristiwa kematian dan informasi waktu kematian seseorang. Seorang juru kunci kuburan, berdasarkan adanya peristiwa kematian di suatu waktu akan membuat petak galian di salah satu area yang tersisa di area pemakaman, memasukkan jenazah ke dalam galian, menutup lubang galian, menancapkan identitas sang terkubur dan secara rutin memastikan gundukan tanah tersebut tetap bersih dan identitas pihak terkubur tidak hilang. Perawatan diupayakan agar kemudian para peziarah bisa mengakses makam yang mereka kehendaki dengan perasaan nyaman. Dari narasi di kalimat sebelumnya, kemudian saya mengibaratkan pengakses data sebagai peziarah. Untuk itu, karena yang dirujuk lagi-lagi peristiwa kematian, para peziarah data seharusnya datang tidak hanya memanfaatkan apa saja yang ada di sana demi kelegaan yang sifatnya cepat dan sementara. Namun, rasa berkabung, harus ditanamkan di setiap kunjungan. Hal ini juga berlaku bagi sang juru kunci kuburan data. Lagi-lagi upaya ini ada untuk memberi jeda ke dalam diri dari kecepatan, sekaligus tanda penghormatan: dengan membaca tiap butir peninggalan dari nama-nama yang tertera pada ‘nisan data’ secara mendalam, kita bagai merapal doa, menjaga nama baik mereka, dan menumbuhkan niat baik dalam setiap pemanfaatan kembali warisan-warisan mereka.

Taman Makam Ciptaan Bebas Hak Cipta, sebagai konsep tawaran di paragraf sebelumnya, kemudian saya coba implementasikan melalui pelantar situs web ini. Pengimplementasian ini dimaksudkan agar lajur ulang alik antara konsep kehidupan dan kematian dalam sirkuit regulasi hak cipta bisa lebih dirasakan secara menubuh oleh para pengakses data. Atau lebih tepatnya, para peziarah data. Mengapa demikian? Karena situs web ini berusaha menawarkan simulasi berziarah melalui istilah-istilah yang digunakan untuk menavigasikannya. Misalnya, untuk mengetahui ciptaan apa saja yang sudah bebas hak cipta 71 tahun sepeninggal penciptanya, peziarah harus terlebih dulu mengeklik tombol ‘Akses Makan’ yang tersedia. Setelah itu, mereka akan disambut dengan tampilan berpetak-petak nisan yang memuat nama setiap pencipta. Sesuai dengan slogan situs web ini, [Berziarah Dahulu, Bebaskan Pengetahuan Kemudian], sebelum mengakses informasi terkait peninggalan, para peziarah data akan diajak pelan-pelan memahami penyebab kematian dan terpapar informasi lokasi tempat di mana mereka dimakamkan. Harapannya, kebiasaan serba cepat dalam proses ekstraksi data sebelumnya bisa bergeser menjadi lebih lembut dan lambat, dengan jeda empati berupa rasa berkabung sebelum perayaan kebebasan warisan pengetahuan. Jika terpantik, mereka kemudian bisa mengisi buku bela sungkawa, yang berfungsi sebagai buku tamu, melalui menu Buku Bela Sungkawa yang tersedia di laman utama Taman Makam Ciptaan Bebas Hak Cipta. Terakhir, menu Eulogi juga disediakan untuk memberikan konteks mengapa basis data ciptaan bebas hak cipta, khususnya yang merujuk kematian-kematian penciptanya, harus diakses dengan pemaknaan yang lain dari sebelumnya. Bahwa, basis data ini adalah sebuah lintasan yang menghubungkan antara yang hidup dengan yang sudah mati…

oleh Hilman Fathoni

Baca versi lengkap eulogi ini di edisi pertama Hoppla: Antologi Seni Berbasis Internet dan Teknologi

>>>KEMBALI<<